Izef Damanik
@ipusdam
ID: 1327018524825436161
https://medium.com/@segarismerah 12-11-2020 22:41:01
246 Tweet
90 Takipçi
5 Takip Edilen
Kita semua penyair kepala kita berkata-kata namun malu mengakuinya. Sebab puisi sama halnya dosa, meski ribuan cara kau hindari kau tetap akan mati dihakimi. Selamat jalan, Malamku. ~Pelangi Puisi~
Dari seberang kutatap duka di tempat kita biasa bersua. Sayup-sayup rindu tampak berusaha menyela. Sementara saksi-saksi bisu, kursi dan meja, seperti sedang berbicara. Katanya, “Pulanglah, tidak akan ada lagi cinta tersisa di tempat biasa.” ~Pelangi Puisi~
Aku bersumpah pada janji takabur, bahwa cinta sudah terlalu terkubur oleh rindu yang tak sudi kau hibur. ~Pelangi Puisi~
Admin BPJS Ketenagakerjaan mohon pencerahannya atas kendala yang sedang saya alami dan sudah saya sematkan di dm. Terima kasih.
Diammu apa, Pak? Hidupkah, rejekikah? Aku ngeri, Pak. Ngeri, diammu aku. ~Pelangi Puisi~
Admin BPJS Ketenagakerjaan apa masih belum ada respon lanjutan mengenai kendala yang saya alami?
Admin BPJS Ketenagakerjaan saya udah lengkapi data yang dibutuhkan tapi belum ada respon lanjutan? Gimana, ya?
Kita terus saja merasa pintar soal cinta, sementara kesepian masih saja mesra membuat lubang di dada. ~Pelangi Puisi~
Jika kita dipertemukan takdir, tapi dipisahkan oleh nasib, lalu, pada siapa aku ber-Tuhan? ~Pelangi Puisi~
Apa memang sudah lama kau ingin pergi? Bahkan belum sempat kopiku dingin, kau malah sudah menjelma angin. ~Pelangi Puisi~
Ada ribuan jelmaan kata rindu di kepala, yang tak akan pernah sampai kepadanya, karena tertahan oleh luka. Ada miliaran cara bersandiwara di muka, yang mengenal sekali cara berpura-pura, karena tidak ingin terlihat sengsara. ~Pelangi Puisi~
Kita hanya mungkin. Hanya kalau. Hanya seandainya. Hanya bisa jadi. Tidak akan pasti. ~Pelangi Puisi~
Tanah lapang ini habis kutapaki, mimpiku hanya dihabisi malam, naifku berjenjang meneriaki rindu, sementara kabarmu hanya angin segar, di mana kau berada, hatiku berduka. ~Pelangi Puisi~
Mungkin memang kita sengaja dipertemukan hanya untuk saling mendoakan dari kejauhan, bukan untuk bersyukur karena dipersatukan. ~Pelangi Puisi~
Bisa jadi ini bukan cinta. Melainkan peristiwa yang menjelma duka. Yang memberikan kita sepotong aba-aba, bahwa semesta pernah mempertemukan kita dengan menaruh luka sebagai perantara. ~Pelangi Puisi~
Nama kita dipersatu dan mengabu tepat waktu. Sebelum asap mengenal gelap, yang tidak sempat Ia sapa. Sebelum api meniadakan cahaya, yang tidak pernah dikenalnya. ~Pelangi Puisi~
Akan aku biarkan diriku terbakar oleh dirimu, oleh kasihmu, oleh kita. Sepenuhnya, tiada apa lagi tersisa. Hingga tak kau temukan lagi aku, melainkan dirimu. Hanya kamu. ~Pelangi Puisi~
Memang luka ini sengaja tidak kuobati, sebab aku butuh pengingat ketika kau kembali. ~Pelangi Puisi~