Mesanggrah Budjana. (@pelaroeng) 's Twitter Profile
Mesanggrah Budjana.

@pelaroeng

𝑨nyir kaul kesumat berpinak di ombak antipati. Kita terdakwa, dikutuk atas berahi yang berkolusi. Lantas kita mati, di mata kaki anarki berlenung cintamani.

ID: 1229908291

linkhttp://DUA-RIBU.xn--6ii calendar_today01-03-2013 13:58:58

211 Tweet

32 Followers

33 Following

𝑹𝑨𝒀 𝑺𝒀𝑨𝑰𝑳𝑬𝑡𝑫𝑹𝑨 (@berkasakan) 's Twitter Profile Photo

β € ADA POCONG YANG MENGETUK PINTU DENGAN KEPALA. Duk-duk-duk! Ada bangkai yang terbungkus, melompat-lompat di depan rumah bagai karung beras. Ia menggapai pintumu dengan kepala pecah. Tok-tok-tok! Nanah meleleh menetes di serambi. Membawa bau busuk dan cacing dari kubur. β €

β €

ADA POCONG YANG MENGETUK PINTU DENGAN KEPALA.

Duk-duk-duk!

Ada bangkai yang terbungkus, melompat-lompat di depan rumah bagai karung beras. Ia menggapai pintumu dengan kepala pecah.

Tok-tok-tok!

Nanah meleleh menetes di serambi. Membawa bau busuk dan cacing dari kubur.

β €
NYALARAYU KAMANIYA. (@lumatlamat) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  β€œKalau begitu, jangan biarkan aku tetap di sini,” bisikku. Seketika, jeruji terbuka. α…  α…  α… 

NYALARAYU KAMANIYA. (@lumatlamat) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  Adalah nyala yang membakar tubuhnya kala bibirmu itu menyesapku perlahan. Adalah sukma yang turut memerah kala jemariku bertaut di lehermu, meruntuhkan segala yang seharusnya tak boleh jatuh. α…  α…  α… 

NYALARAYU KAMANIYA. (@lumatlamat) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  Dan jika ini adalah akhir dari diriku, maka biarlah. Biarlah aku luruh di dalam muslihatmu. Biarlah aku menjadi abu, atau lebih baikβ€”biarlah kita terbakar bersama di ufuk tabu, di atas makam Ibu (mungkin jua, Ayahmu?) α…  α…  α… 

NYALARAYU KAMANIYA. (@lumatlamat) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  MATINYA KAMELIA, DI BUAH DADA. Aku mengintip dari sela mawar hitam, membersamai layunya kamelia di ujung ruang. Usut punya usut, pemiliknya pergi setelah dapat satu kecup. α…  α…  α… 

NYALARAYU KAMANIYA. (@lumatlamat) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  Ibu, anak dari lelaki di dalam televisi itu ada di dekapku, ada di genggamku. Tunggu. Besok atau lusa, kukirim mereka ke π’π’†π’“π’‚π’Œπ’‚. α…  α…  α… 

𝖧𝗂𝗋𝖺𝗒𝖺 𝖬𝖺𝗁𝖺𝗋𝖽𝗂𝗄𝖺. (@riuhruah) 's Twitter Profile Photo

️️ ️️ 1 MEI, π—£π—˜π—₯π—œπ—‘π—šπ—”π—§π—”π—‘ 𝗛𝗔π—₯π—œ 𝗕𝗨π—₯𝗨𝗛. Semoga bisa terus jadi pertanda bahwa gaung para kaum pekerja akan selalu perlu didengar, kian ingar-bingar, memijar, dan tak pernah gentar. ️️ ️️

️️

 ️️

1 MEI, π—£π—˜π—₯π—œπ—‘π—šπ—”π—§π—”π—‘ 𝗛𝗔π—₯π—œ 𝗕𝗨π—₯𝗨𝗛.

Semoga bisa terus jadi pertanda bahwa gaung para kaum pekerja akan selalu perlu didengar, kian ingar-bingar, memijar, dan tak pernah gentar. 

 ️️

 ️️
RINDAI NALA. (@muarjati) 's Twitter Profile Photo

α…  α…  Aku adalah keranda dan kau adalah mayat. Kau merebah bersimbah lara, aku mengalas nelangsa. Tubuhku melebur tanah, mengundang badai dan kemarau. Kau memalingkan wajah. Katamu, kau benci kematian. Aku adalah keranda. Lantas bagaimana? α…  α… 

Mesanggrah Budjana. (@pelaroeng) 's Twitter Profile Photo

α…  α… α…  α…  α…  α…  / Nak, se-jelita itu kamu tumbuh. Dilihatnya semenyenangkan kalau lihat Ibumu. Dulu. α…  α… α…  α…  α…  α