Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile
Izef Damanik

@ipusdam

ID: 1327018524825436161

linkhttps://medium.com/@segarismerah calendar_today12-11-2020 22:41:01

246 Tweet

90 Followers

5 Following

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Bagiku, Ayah adalah Matahari. Ia seperti terik yang sulit didekati, tapi rela habis diselimuti api, hanya untuk melihatku berjalan dengan cahayanya menerangi.

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Di Telepon Genggam, aku mengenalmu. Kubaca di tempat gelap. Sangat gelap malah. Terang enggan berada. Malah kamu, dan "Telepon Genggam"-mu. Selamat jalan, Penyair~ #jokpin

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Kita semua penyair kepala kita berkata-kata namun malu mengakuinya. Sebab puisi sama halnya dosa, meski ribuan cara kau hindari kau tetap akan mati dihakimi. Selamat jalan, Malamku. ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Dari seberang kutatap duka di tempat kita biasa bersua. Sayup-sayup rindu tampak berusaha menyela. Sementara saksi-saksi bisu, kursi dan meja, seperti sedang berbicara. Katanya, “Pulanglah, tidak akan ada lagi cinta tersisa di tempat biasa.” ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Ada ribuan jelmaan kata rindu di kepala, yang tak akan pernah sampai kepadanya, karena tertahan oleh luka. Ada miliaran cara bersandiwara di muka, yang mengenal sekali cara berpura-pura, karena tidak ingin terlihat sengsara. ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Tanah lapang ini habis kutapaki, mimpiku hanya dihabisi malam, naifku berjenjang meneriaki rindu, sementara kabarmu hanya angin segar, di mana kau berada, hatiku berduka. ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Bisa jadi ini bukan cinta. Melainkan peristiwa yang menjelma duka. Yang memberikan kita sepotong aba-aba, bahwa semesta pernah mempertemukan kita dengan menaruh luka sebagai perantara. ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Nama kita dipersatu dan mengabu tepat waktu. Sebelum asap mengenal gelap, yang tidak sempat Ia sapa. Sebelum api meniadakan cahaya, yang tidak pernah dikenalnya. ~Pelangi Puisi~

Izef Damanik (@ipusdam) 's Twitter Profile Photo

Akan aku biarkan diriku terbakar oleh dirimu, oleh kasihmu, oleh kita. Sepenuhnya, tiada apa lagi tersisa. Hingga tak kau temukan lagi aku, melainkan dirimu. Hanya kamu. ~Pelangi Puisi~