Dani Ardiansyah (@daniardianz) 's Twitter Profile
Dani Ardiansyah

@daniardianz

Founder of IndiePublishing.online | @IndiPublishing | #PejuangCOD | warga Depok.

ID: 57607462

linkhttp://www.indie-publishing.com calendar_today17-07-2009 10:16:33

4,4K Tweet

959 Followers

325 Following

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(1/10) Zaman terus melaju. Gelombang teknologi tak bisa dibendung. AI bukan sekadar datang mengetuk pintu ruang kelas, tapi sudah mulai melangkah masuk. Kita tidak bisa berpaling. Kita pun tak boleh tertinggal. Dunia bergerak cepat, dan sekolah tak boleh berjalan lambat.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(2/10) Anak-anak Indonesia berhak atas masa depan yang sejajar. Mereka berhak atas literasi digital, atas kecakapan teknologi terkini. Tetapi mereka juga berhak tumbuh sebagai manusia seutuhnya: berpikir jernih, berperasaan halus, dan berkarakter kuat.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(3/10) Sekolah bukan pabrik jawaban. Ia adalah taman akal dan budi. Di sanalah anak-anak belajar mengenal tanya, bukan hanya menjawab; belajar mendengar, bukan hanya bicara; belajar berpikir mendalam, bukan sekadar mengulang fakta.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(4/10) Albert Einstein pernah mengingatkan: “The human spirit must prevail over technology.” Pesan ini sederhana tapi dalam. Jangan sampai teknologi yang kita bangun justru menghapus sisi kemanusiaan yang menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(5/10) AI bisa menulis esai, menjawab soal, merangkum buku. Tapi jika tak hati-hati, ia bisa membuat anak-anak kita tumbuh tanpa fondasi. Tak cakap berpikir kritis, tak mandiri dalam mengambil keputusan. Semua menunggu petunjuk mesin.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(6/10) Isaac Asimov mengingatkan, “Science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.” Dunia penuh inovasi, tapi apakah kita cukup bijak menggunakannya? Apakah kita tahu kapan harus melaju, dan kapan harus menepi? Sering kita tertatih menjalaninya.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(7/10) Karena itu, kita butuh aturan dan panduan. Bukan untuk membatasi zaman, tapi untuk menjaga arah. Perlu diskusi jujur: sejauh mana AI boleh hadir di kelas? Apa batas wajar penggunaannya? Dan apa yang justru harus dijaga tetap dilakukan manusia?

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(8/10) Larangan total bukanlah jalan. Tapi kebebasan tanpa batas pun bukan jawaban. Kuncinya: keseimbangan. Dan seperti zaman yang bergerak, keseimbangan ini pun akan terus berubah. Kita harus siap menyesuaikan, tanpa kehilangan nilai.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(9/10) Kita perlu ruang dialog intensif. Antara guru, orangtua, murid, pakar, dan negara. Agar teknologi jadi alat bantu, bukan alat kendali. Agar pendidikan tetap mencerdaskan manusia, bukan menggantikan manusia.

Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) 's Twitter Profile Photo

(10/10) Masa depan harus kita sambut dengan optimisme. Tapi jangan lepas kendali. Pendidikan harus tetap berpijak pada manusia, bukan mesin. Sebab teknologi hanya hebat, jika ia tetap tahu tempat. Mari kita diskusikan.